Kirim sebagai tamu
Waktu: 2026-07-29 16:42:17

Edwin menjelaskan, bakteri Cutibacterium acnes merupakan salah satu faktor yang berperan dalam munculnya jerawat. Karena itu, suatu produk tidak bisa langsung disebut efektif mengatasi jerawat hanya karena sedang ramai digunakan masyarakat.
Menurut dia, hingga kini belum ada penelitian yang membuktikan NaCl 0,9 persen mampu membunuh bakteri tersebut.
Hal ini berbeda dengan anggapan yang banyak beredar di media sosial, yang menyebut penggunaan NaCl secara rutin dapat membantu menyembuhkan jerawat.
Pexels/cottonbro studio Ilustrasi cairan infus. Cairan infus yang belakangan ramai dipakai untuk wajah disebut-sebut bisa mengatasi jerawat, tetapi dokter kulit menegaskan belum ada bukti ilmiah bahwa NaCl mampu membunuh bakteri penyebab jerawat.
Meski demikian, Edwin tidak menampik bahwa sebagian orang mungkin merasa kondisi kulitnya membaik setelah menggunakan NaCl. Akan tetapi, menurutnya, perbaikan itu belum tentu berasal dari efek larutan garam tersebut.
"Jerawat disebut bisa membaik dengan penggunaan NaCl seperti yang dibagikan di media sosial mungkin karena beberapa hal, seperti efek pengolesan NaCl di kulit yang membantu membersihkan minyak serta kotoran di wajah, adanya perubahan pola hidup, skincare, vitamin ataupun obat yang dikonsumsi," jelasnya.
Artinya, ada banyak faktor lain yang dapat memengaruhi perbaikan jerawat sehingga tidak bisa disimpulkan bahwa NaCl menjadi penyebab utamanya.
Edwin mengatakan, NaCl memang sering digunakan dalam praktik dermatologi. Namun, fungsinya bukan sebagai obat untuk mengatasi jerawat.
Ia menjelaskan, larutan tersebut dimanfaatkan untuk membersihkan kulit pasien, irigasi luka, membantu proses wet dressing atau kompres pada luka dan koreng setelah trauma maupun tindakan laser, hingga sebagai pelarut obat untuk suntikan steroid pada jerawat, bekas luka, atau keloid.
"Sedangkan yang sedang viral ini menyebutkan pengolesan NaCl secara teratur setiap hari dapat membantu membuat kualitas kulit membaik dan jerawat sembuh," kata dr. Edwin.
Edwin menuturkan, risiko penggunaan NaCl pada kulit relatif kecil karena cairan ini tidak mengandung bahan yang bersifat iritatif maupun antiseptik.
"Sebenarnya risikonya cukup minimal karena NaCl tidak mengandung bahan iritatif, scrub, antiseptik, dan bahan berbahaya sehingga relatif aman untuk dioleskan ke kulit," ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa keamanan tersebut tidak berarti NaCl dapat dijadikan terapi utama untuk mengatasi jerawat.
Menurut Edwin, penanganan jerawat tetap harus disesuaikan dengan penyebabnya. Dokter perlu menilai apakah jerawat dipengaruhi pola hidup atau sudah berkaitan dengan faktor hormonal karena terapi yang diberikan akan berbeda.
"Dengan terapi yang tepat, jerawat yang membandel sesulit apa pun akan membaik dalam waktu minimal tiga bulan dengan perbaikan 80-100 persen dan tidak boleh lebih dari enam bulan. Bila tiga bulan terapi dengan dokter belum ada perubahan, pasien bisa mempertimbangkan untuk second opinion," pungkas dr. Edwin.
Konten Terkait
Bacaan Acak
Peringkat Populer
Tautan